“Problematika Kontemporer” Seorang Istri yang menafkahi keluarga

KONSEP KERJA DAN PERAN MAJEMUK WANITA(ISTRI) DALAM MEMBANTU SUAMI MENAFKAHI KELUARGA

 

  1. A.    Pendahuluan

Perkawinan adalah pintu gerbang yang sakral yang harus dimasuki oleh setiap insan untuk membentuk sebuah lembaga yang bernama keluarga. Untuk membentuk sebuah hubungan rumah tangga yang harmonis, sangat diperlukan sikap saling pengertian antara sumai dan istri yakni dengan menempatkan diri pada posisi dan kedudukan masing-masing, paling tidak pasangan tersebut harus mengetahui peran dan fungsi antara satu dengan yang lain yang saling melengkapi.

Dengan kata lain, hak dan kewajiban yang timbul sebagai konsekwensi dari suatu perkawinan yang harus diterima dan ditunaikan sebagaimana mestinya oleh kedua belah pihak ( Suami-Istri ). Apa yang menjadi kewajiban suami merupakan hak yang harus diterima istri, begitu pula sebaliknya, apa yang menjadi kewajiban dari istri itu merupakan hak yang harus diteriman suami, dan diantara kewajiban suami terhadap istri adalah memberi nafkah, denga bekerja untuk mencukupi segala kebutuhan istri dan anak-anaknya.[1]

Namun pada saat sekarang tidak sedikit ditemukan bahwa kaum wanitalah yang bekerja diluar rumah mencari penghidupan seperti halnya kaum laki-laki bahkan tidak sedikit dari mereka yang berhasil bahkan menjadi penopang hidup utama keluarganya dan menggantikan posisi suami.

Meski bukan fenomena baru, namun masalah wanita bekerja ( Berkarir ), nampaknya sampai saat ini masih menjadi perdebatan, bagaimanapun, masyarakat masih memandang bahwa keluarga ideal adalah keluarga yang dinafkahi melalui hasil kerja suami yang bekerja diluar rumah sedangkan istri dirumah dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan masih dianggap wanita yang bekerja diluar rumah adalah bukan kodratnya, maka dari itu menarik jika karya ilmiyah ini sedikit membahas tentang konsep kerja dan peran majemuk perempuan dalam membantu suami menafkahi keluarga yang seharusnya menjadi hak seorang istri dari hasil perkawinan dan menjadi tanggung jawab dari seorang suami.

  1. B.     Pengertian Nafkah dan Dasar Hukumnya

Secara etimologi kata Nafkah berasal dari kata ”Nafaqa-yanfiku” yang berarti ( laku, lari ) atau ( habis dan Musnah) adapun kata Nafkah adalah kata benda ”Nafaqah” bentuk ism dari kata Infaq yang berarti harta yang dinafkahkan, kata nafkah juga berarti bekal, maka dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa nafkah berarti sesuatu yang berikan terhadap istri oleh suami baik berupa makanan, pakaian, tempat tinggal, dan sebagainya

Adapun secara terminologi kata nafkah diartikan oleh para ulama dengan rumusan yangberbeda :

  1. Menurut Imam Malik bin Anas, pelopor Madzhab Maliki, Nafkah adalah sesuatu berupa makanan yang biasa mencukupi keadaan ( kebutuhan ) manusia dengan tidak melampaui batas.
  2. Menurut Al-Khatib al-Syarbini, Pengikut Madzhab Sayafi’i, Nafkah adalah pengeluaran seseorang berupa perbekalan bagi orang yang nafkahnya wajib ditanggungnya, seperti roti, lauk pauk, pakaian,tempat tinggal, dan apa-apa yang serupa dengannyaseperti air, minyak, lampu, dan sebagainya.

Dari dua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Nafkah adalah segala kebutuhan manusia yang mencakup tiga aspek penting yang terdiri dari sandang, pangan, dan papan, serta hal-hal yang berkaitan dengannya.

Adapun dasar hukum nafkah sebagai kewajiban suami kepada istri mendapat legitimasi dari teks-teks Al-Qur’an dan Al-hadits bahkan dari Ijma’ serta dalil-dalil dari ilmu perundang-undangan. Ini menandakan bahwa persoalan nafkah dalam keluarga mendapatkan perhatian oleh agama dan juga dimata undang-undang.

v  Al-Qur’am Surat Al-Baqarah (2) : 233

Artinya :

”Dan ibu hendaklah menyusuhkan anak-anaknya selama dua tahun penuh,yaitu bagi ibu yang ingin menyempurnakan penyusuannya, dan seorang yang berkewajiban memberi makan dan pakaian para ibu dengan cara yang ma’ruf ( sesuai dengan kebutuhan ) seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah, karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih ( sebelum dua tahun ) dengan kerelaan keduannya dengan permusyawaratan, maka tidak ada dosa buat keduanya dan jika kamu ingin anakmu disusuhkan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut, bertaqwalah kepada Allah Maha apa yang kamu kerjakan”[2]

Dari ayat diatas dapat dilihat kandungan bahwasanya Allah SWT memerintahkan kepada sang ibu untuk melengkapi persususannya selama dua tahun penuh jika kedua orang tuanya menghendaki, dan bagi ayah hendaklah memenuhi segala kebutuhan sang istri ( Ibu ) yang sedang menyusui anaknya agar dapat menjalankan tugas dengan baik. Adapun nafkah diberikan kepada istri sesua dengan cara yang ma’ruf dan sesuai dengan kemampuan suami, sebab Allah Ta’ala tidak akan membebani hambanya kecuali dengan kesanggupannya.

Hadits Riwayat Muslim

عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللهِ فَسَأَلَ عَنِ الْقَوْمِ حَتَّى إِنْتَهَى إِلَيَّ فَقُلْتُ أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِى بْنِ حُسَيْنِ فَأَهْوَى بِيَدِهِ إِلَى رَأْسِيْ فَنَزَعَ زِرِّى اْلأَعْلَى ثُمَّ نَزَعَ زَرِّى اْلأَسْفَلِ ثُمَّ وَضَعَ كَفَّهُ بَيْنَ ثَدْيِيَّ وَأَنَا يَوْمَئِذٍ غُلاَمٌ شَابٌ فَقَالَ مَرْحَبًا بِكَ يَااِبْنِ أَخِى سَلْ عَمَّاشِئْتَ فَسَأَلَتْهُ وَهُوَ أَعْمَى .. فَقُلْتُ أَخْبِرْنِى عَنْ حُجَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بِيَدِهِ فَعَقَدَ تِسْعًا إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَثَ تِسْعَ سِنِيْنَ لَمْ يَحُجَّ ثُمَّ أَذَنَ فِى النَّاسِ فِى الْعَاشِرَة … فَأَتَى بَطْنَّ الْوَادِى فَخَطَبَ النَّاس وَقَالَ : … فَاتَّقُوْا اللهَ فِى النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجُهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُؤْطِئْنَ فُرُسَكُمْ اَحَدً تَكْرَهُوْنَهُ فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوْهُنَّ ضَرْبًا غَيَر مُبَرِّءِ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ (رواه مسلم)

Dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya berkata :

”Kami menemui Jabir bin Abdillah dan dia bertanya tentang sesuatu kaum sampai pada akhirnya aku mengatakan bahwa aku adalah Muhammad bin Ali bin Husain, lalu dia ( Jabir bin Abdillah ) meletakan tangannya diatas kepalaku, kemudian dia melepaskan kancing bajuku bagian atas setelah itu bagian bawah dan meletakkan kedua telapak tangannya diantara kedua dadaku, sedangkan aku ketika itu masih remaja, lalu berkata : ”selamat datang wahai anak saudaraku, tanyalah apa saja yang hendak kau tanyakan, kemudian aku bertanya kepadanya sementara dia adalah seorang yang buta” aku bertanya : ceritakanlah kepadaku tentang haji Rasulullah Saw. Dia menjawab sambil menunjukan sembilan jarinya dan berkata : sesungguhnya Rasulullah Saw telah menetap ( di Makkah ) selama sembilan tahun dan beliau belum melaksanakan haji lalu beliau mengijinkan ( para sahabat ) untuk berhaji pada tahun kesepuluh hijriyah ( dan ketika beliau sedang haji ) beliau mendatangi sebuah lembah dan menyampaikan khutbah kepada ummat dan mengatakan : ”hendaklah kamu bertakwa kepada  Allah dalam urusan permepuan, karena sesungguhnya kamu telah mengambil mereka dengan kalimat Allah. Wajib bagi mereka ( istri-istri ) untuk tidak memasukan kedalam rumahmu orang yang tidak kamu sukai, jika mereka melanggarnya maka pukullah mereka tetapi jangan sampai melukai dab mereka berhakmendapatkan belanja dari kamu dan pakaian  dengan cara yang ma’ruf ( baik )” [3]

Secara umum hadits diatas menceritakan tentang kisah haji wada’ Rasulullah Saw bersama sahabat sahabatNya dimana ketika itu beliau menyampaikan khutbah yang isinya antara lain untuk selalu menjaga hak-hak kaum wanita serta memberinya wasiat/wejangan dan mempergaulinya dengan baik, hal ini  dikarenakan seorang laki-laki telah berjanji diatas nama Allah telah jadikan wanita itu halal baginya. Hadits diatas juga mencakup kewajiban bagi suami untuk memberikan nafkah dan pakaian kepada istri.

v  Dalam KHI ( Kompilasi Hukum Islam ) di Indonesia telah telah mengatur hak dan kewajiban suami-istri yang harus dipenuhi bersama antara lain telah ditetapkan dalam KHI pasal 77 adalah sebagai berikut  :

  1.  Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat
  2.  Suami istri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain.
  3. Suami istri memikul kewajiban untuk mengasuh dan memelihara anak mereka, baik mengenai pertumbunhan jasmani, rohani maupun kecerdasanya dan pendidikan agamanya.
  4. Suami istri wajib memelihara kehormatan.
  5. Jika suami atau istri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama
  1. C.    Sebab – Sebab yang Mewajibkan Nafkah

Adapun diantara sebab-sebab yang mewajibkan nafkah kepada orang lain ada tiga sebab yakni : pertama. Hubungan perkawinan. kedua. Hubungan kekerabatan. Ketiga. Hubungan kepemilikan.

Namun dalam hal ini penulis hanya akan membahas sebab pemberian nafkah dikarenakan perkawinan, untuk menciptakan dan membangun keluarha sakinah dan harmonis lagi bahagia. Syariat islam telah menetapkan aturan –aturan berupa hak dan kewajiban  yang harus ditaati dan dan dilaksanakan oleh setiap pasangan suami-istri. Apa yang menjadi kewajiban suami merupakan hak yang harus diterima sang istri dan begitu pulah apa yang menjadi kewajiban istri menjadi hak yang harus diterima oleh suami.[4]

Adapaun penulis sedikit membahas secara singkat implikasi nafkah dari suami, yakni adanya adanya kepemimpinan dalah keluarga sebagai tanggung jawab suami kepada istri dan menimbulkan wibawanya didepan sang istri, juga menunjukan bahwa seorang suami  layak dijadikan pemimpin, baik dalam rumah tangga maupun pemimpin negara yang akan menjalankan kemudi kapal.panglima yang memutuskan kebijakan-kebijakan.[5] Namun demikian kaum feminis mengatakan bahwa kewajiban atas nafkah keluarga harus dibebankan kepada kedua suami-istri, mengingat kedua jenis gender tersebut sama-sama dianjurkan untuk melakukan perbuatan amar ma’ruf nahyi mungkar.

Dalam hal itulah kewajiban suami menafkahi suami dapat diambil peranannya dengan yang akan berimplikasi dalam rumah tangga bila seorang wanita dapat mengambil peranan lelaki sebagi yang menafkahi keluarga meski dalam kerelaan dan keridhoan seorang suami dianggap akan mempengaruhi kepemimpinanya dalam rumah tangga.dan juga dalam hal tersebut juga seorang suami mempunya kewenangan dalam mendapatkan hak-haknya,salah satunya hak seksual, artinya ketika suami tidak memenuhi kewajiban maka istri berhak untuk menahan tidak berhubungan dengan suami.

Dalam hal pembebanan nafkah mayoritas ulama telah sepakat bahwa nafkah untuk istri tidak wajib hanya dengan akad perkawinan nikah saja tetapi harus disertai dengan adanya penyerahan diri dengan menghilangkan hal yang dapat menghalangi tercapainya kenikmatan seksual.

Dalam pandangan islam bekerja atau berkari merupakan sesuatu kewajiban kemanusiaan yang tak pernah telepas dari kehidupan manusia sehari hari. Banyak ayat Al-qur’an yang megupas tentang kewajiban untuk bekerja berusaha mencari nafkah, adapun isyarat Alqur’an  yang menunjukan bahwa wanita diberikan hak-hak untuk mengusai hartanya yang telah diusahakan nya secara independen iyalah pada Surat An-Nisa Ayat : 4

Artinya

” Berikanlah mas kawin ( Mahar ) kepada wanita yang kau nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan, kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati. Maka makanlah (Ambilla) pemberian itu ( sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya”.

Ayat diatas mengandung perintah untuk memberikan mahar sebagai kewajiban seorang suami namun apabila memperbolehkan memanfaatkan mahar tersebut dengan lapang dan senang hati tanpa adanya unsur kekerasan dari pihak suami maka suami boleh mempergunakannya. Pada ayat ini juga pada dasarnya  syari’at islam telah memberikan kepada kaum wanita kekbebasan sepenuhnya dan menganugerahkan hak-hak yang sama dan kaum lelaki dalam bekerja dan mencari penghidupan namun kenyataanya terdapat persepsi masyarakat yang telah tertanam sejak alam bahwa jika seorang mempunyai atribut biologis sebagai lelaki atau perempuan adan berdampak pada perbedaan peran dalam kehidupan sosial.

  1. D.    Seputar Pekerjaan dan Peran Wanita 

Secara historis, telah terjadi dominasi laki-laki dalam semua masyarakat di sepanjang zaman, kecuali dalam masyarakat-masyarakat matriarkhal, yang jumlahnya tidak seberapa. Perempuan dianggap lebih rendah dari laki-laki, mereka tidak cocok memegang kekuasaan ataupun memiliki kemampuan yang dimiliki laki-laki, karena itu, dianggap tidak setara dengan laki-laki. Laki-laki harus memiliki dan mendominasi perempuan, menjadi pemimpinnya dan menentukan masa depannya. Hak perempuan dibatasi di rumah dan di dapur, hidupnya dibatasi oleh dinding dan rutinitas kegiatannya hanya di sekitar rumah, dia dianggap tidak mampu mengambil keputusan di luar wilayahnya.[6]

Seiring dengan semakin majunya teknologi dan semakin berkembangnya masyarakat, kaum wanita seharusnya sudah tampil ke depan dan mereka sudah banyak memasuki berbagai profesi karena keahliannya, mereka bekerja di luar rumah yang pada akhirnya semakin sempit lapangan kerja bagi kaum pria. Pada masa kini, apalagi di masa-masa yang akan datang, kemungkinan laki-laki tinggal di rumah dan perempuan bekerja di luar, menjadi pencari nafkah keluarga. Nah, bagaimana pandangan Islam dalam hal ini, karena laki-laki itu sebenarnya yang berkewajiban memberi nafkah kepada keluarga atau rumah tangganya. Wanita diperbolehkan untuk memberi nafkah kepada suami, anak, atau rumah tangganya dari hasil jerih payahnya, meskipun manafkahi keluarga itu merupakan kewajiban mutlak bagi si suami, asal wanita tersebut rela dalam hal ini. Dalam surat an-Nisa’ ayat 4 dijelaskan: “Apabila wanita rela memberikan sebagaimana maharnya kepada suaminya, maka suaminya boleh memakannya.”

Kalau mahar itu sebagai pemberian yang wajib dari pihak suami kepada istri boleh dimakan oleh suami sebagiannya karena kerelaan istri, maka boleh pula istri menafkahi suami, anak-anak, dan rumah tangganya, karena masalah itu tergolong dalam hal yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk tolong menolong dan bantu membantu dalam mengerjalan kebaikan (QS. 5/al-Maidah: ayat 2) dengan catatan dalam memberikan nafkah kepada suami yang keadaan susah, tidak ada perceraian, dan ini termasuk perbuatan yang sangat baik. Kalau suami istri dapat saling mewarisi setelah meninggal salah satunya, mengapa si suami tidak dapat saling mewarisi setelah meninggal salah satunya, mengapa si suami tidak harus dibantu bila hidupnya susah. Oleh sebab itu, istri atau ibu yang menafkahi keluarganuya (suami/anak-anaknya) tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan keadilannya.[7]

Wanita boleh memasuki berbagai profesi, asal tugas-tugasnya diselaraskan dengan sifat-sifat dan kodrat mereka serta tidak meninggalkan kewajiban-kewajiban sebagai ibu rumah tangga, bila ia sebagai seorang yang bersuami atau seorang ibu. Ia juga harus tetap memperhatikan hukum-hukum yangh ditentukan oleh agama, misalnya tidak berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya dan menutup aurat dengan busana yang sesuai dengan ajaran Islam.

Meski wanita pekerja itu mempunyai peran ganda, dalam wilayah domestik rumah tangga ia mempunyai peran dan tanggung jawab dalam menciptakan keluarga sakinah, dan ini sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari peran dan tanggung jawab pria. Tidak dapat dikatakan yang satu dominan dan lebih menentukan, sedang yang lain sekedar pelengkap, keduanya saling melengkapi dan saling mendukung. Pria dan wanita adalah team work, atau team-mate dalam menciptakan keluarga sakinah ditambah dengan peran-peran edukatif dan sosialisasi positif dari lingkungan yang lebih luas. Selanjutnya dalam pembahasan berikut akan dipaparkan tentang seputar wanitia yang bekerja, dan peran wanita pekerja dalam menciptakan keluarga yang harmonis.

Tanggung jawab wanita secara umum adalah menjadi istri dan ibu rumah tangga. Tetapi bila ada wanita yang bekerja di luar rumah, bukan berarti ia lari dari tanggung jawabnya. Wanita yang bekerja pun masih merasa dirinya adalah seorang istri dan ibu dari anak-anakanya. Semua yang ia lakukan itu demi keluarga. Bila seorang wanita dihadapkan dua pilihan, antara bekerja di luar rumah dan mengurus rumah tangga, akhirnya ia merasaa serba kerepotan. Mana yang lebih berat? Pada dasarnya semua itu berat. Karier juga berat karena semata-mata demi keluarga, menjadi ibu rumah tangga, tidak mau meninggalkan rumah pun di rasa penting, singkatnya antara pekerja dan mengendalikan rumah tangga itu sama-sama pentingnya.

Bila seorang wanita berkehendak untuk memainkan peran gandanya di atas, maka yang perlu diperhatikan adalah ia menyadari bahwa itu bukanlah hal yang mudah. Karena tugas utama baginya adalah sebagai istri dan ibu. Istri yang baik dapat menjadi pendamping suami yang berhasuil, sedangkan ibu yang baik akan menghasilkan generasi yang handal untuk keluarganya, bangsa, dan umat. Dan harus difahami bagi wanita karier bahwa umumnya karier itu mempersyaratkan persiapan pendidikan dan mental jika dibandingkan dengan pekerjaan yang tidak memerlukan persyaratan khusus. Seorang wanita karier berarti memiliki pekerjaan khusus di luar rumah dalam rangka mengaktualisasikan diri dan menekuni suatubidang pekerjaan tertentu.[8]

Adapun pengertian wanita pekerja/karier adalah wanita yang digaji seseorang, instansi, atau suatu lembaga untuk melaksanakan tugas pada waktu dan tempat tertentu, menjadi pekerja atau karyawan.[9] Untuk itu seorang wanita yang bekerja harus pandai-pandai mengatur waktu dan memposisikan dirinya antara kepentingan tumah tangganya dan kariernya.

Ada beberapa pertimbangan kebutuhan yang mungkin mendorong seorang wanita untuk mengembangkan karier. Mungkin kebutuhan itu kebutuhan materi, yaitu terdesak masalah keuangan, atau berupa kebutuhan psikologis, yaitu ingin menyalurkan hobi atau bakat, atau ingin mengaplikasikan keilmuan yang selama ini dimilikinya, serta ingin memanfaatkan waktu luang.

Di luar yang disebutkan di atas, yang lebih mulia adalah bila kebutuhan untuk mengembangkan karier dilatarbelakangi oleh niat mengabdi dan ibadah. Dalam ajaran agamapun disebutkan bahwa manusia wajib berusaha dan bekerja, bahwa apa yang ada di dunia ini tidak ada yang gratis, sehingga bekerja merupakan tugas umat manusia di dunia.

Sebagai rasa syukur, memang seseorang tidak terkcuali wanita, perlu mengamalkana pendidikan dan pengetahuan, baik yang didapat melalui pendidikan formal maupun informal yang diperoleh selama ini. apapun pekerjaan yang ditekuninya, dikerjakan sebagai sebuah ibadah. Pekerjaan seseorang ibu rumah tangga, yang mengayomi anak-anaknya dan menjaga kerukunan dan keutuhan keluarga adalah bentuk pengabdian kepada sang Pencipta.[10]

Jika tekad sudah bulat, hendaknya sudah dipastikan bahwa tujuan wanita untuk mengembangkan diri dalam kerjaannya tidak sekedar untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga untuk memberi manfaat untuk pihak lain, yaitu keluarganya, suami, dan anak-anaknya, serta lingkungan di sekitarnya. Wanita sesungguhnya merupakan sumber daya ekonomi yang tidak kalah penting dibandingkan dengan pria. Keberadaan wanita dalam rumah tangga bukan sekedar memberi pelengkap fungsi reproduksi saja, namun lebih dari itu wanita terbukti memberikan sumbangsih yang besar bagi kelangsungan ekonomi dan kesejahteraan rumah tangga serta masyarakat.

  1. E.     Beberapa Persyaratan Bagi Wanita yang Bekerja

Mengenai pekerjaan wanita ini, M. Quraish Shihab merumuskannya bahwa perempuan mempunyai hak untuk bekerja, selama pekerjaan tersebut membutuhkannya dan atau selama mereka membutuhkan pekerjaan tersebut. Dan selama pekerjaan tersebut dilakukannya dalam suasana terhormat, sopan, serta dapat pula menghindari dampak-dampak negatif dari pekerjaan tersebut terhadap diri dan lingkungannya.[11]

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa berbagai macam perubahan yang berdampak positif dan negatif. Hal ini berpengaruh juga dalam kehidupan wanita yakni bagaimana kaum wanita berperan, baik selaku isteri dan ibu rumah tangga, bekerja mencari nafkah dan fungsi social. Dihadapkan pada kenyataan tersebut, ternyata pandangan terhadap peran wanita adalah memberikan peluang kepadanya untuk memberi subyek bagi tindakannya, memahami cita-cita wanita yang mengembangkan diri, dan mengembangkan sikap pembela hak-hak wanita secara lebih tuntas.[12]

Kaitannya dengan pekerjaan wanita ini Zakiah Daradjat menyatakan bahwa dalam sebuah lapangan kerja yang cocok dengan kudratnya, wanita juga dituntut untuk aktif bekerja. Banyak lapangan pekerjaan yang cocok dengan wanita, hanya saja wanita harus selalu ingat bahwa kewanitaannya itu tetap melekat pada dirinya. Artinya, kodrat fisik dan ciri kewanitaannya tetap berbahaya bagi dirinya dan terhadap orang lain, jika ia tidak sadar atau menjaga dirinya. Bahkan, untuk kepentingan keselamatan jiwanya, kaum wanita harus gesit bekerja. Jika seseorang tidak bekerja atau diam saja, maka ia akan melamun, berkhayal, memikirkan atau mengenai hal-hal yang dalam kenyataan tidak dialami atau tidak dirasakan.[13]

Kaidah ushul menetapkan wajibnya memperhitungkan seberapa besar kebutuhan dan kepentingan ketika akan menghindarkan sesuatu yang dapat menimbulkan mudlorot atau kerugian. Sehubungan dengan masalah ini Ibnu Taimiyah mengatakan.

  1. Di samping melihat seberapa besar kerugian yang ditimbulkan sehingga perlu dilarang, maka perlu juga dipertimbangkan bentuk kebutuhan yang mendesak agar suatu perkara diperbolehkan, dianjurkan atau dianggap positif
  2. Tidak satupun perkara yang dilarang dengan alasan sadududz Dzari’ah kecuali hal itu dilakukan demi kemaslahatan yang lebih kuat, seperti larangan berduaan dengan wanita ajnabi, bepergian bersama, atau memandangnya, dimana akan menimbulkan akibat negatif. Begitu juga larangan bepergian terhadap wanita tanpa didampingi suami atau muhrim. Semua itu tidak dilarang melakukan kecuali karena dikhawatirkan akan berakibat negatif. Jika hal itu dilakukan yang lebih kuat, berarti hal itu tidak akan menimbulkan sesuatu yang negatif.[14]
  1. F.     Peran Majemuk Wanita

Menjadi wanita pekerja, memang dituntut meiliki mental dan disiplin yang tinggi. Wanita bekerja apabila telah berumah tangga akan menambah peran bagi dirinya, ia harus bersikap yang menyenangkan suami, penuh perhatian kepada anak-anaknya, di samping ia menekuni kerjaan itu sendiri. Sebagai seorang ibu juga dituntut untuk menciptakan suasana kekeluargaan, persahabatan dengan keluarga-keluarga lain disekitarnya. Hal tersebut berangkat dan tujuan supaya tercipta dan terbina keluarga yang bahagia dan sejahtera, sehingga tercapai tujuan pendidikan Islam di dalam keluarga yang harmonis. Karena itu di dalam pembehasan ini akan diarahkan pada tindakan-tindakan wanita pekerja yang berkaitan dengan fungsinya sebagai seorang istri, ibu rumah tangga dan anggota masyarakat,

v  Hubungan Wanita Dengan Suami

  1. Ketaatan dan Kesetiaan Wanita Pekerja Kepada suami

Seorang istri dikatakan dalam adogium jawa sebagai “garwa” artinya sigarane nyowo atau belahan jiwa suami, yakni seperti sebuah jiwa, dimana sebagian separuh milik suami dan separuh bagian milik istri. Dengan demikian seorang wanita karier hendaknya memiliki sikap ketaatan, kepatuhan dan kesetiaan pada suami.

Ketaatan dalam hal positif, bukan dalam hal sebaliknya . dan ketaatan pada suami, yakni bahwa dirinya milik dan hanya diabdikan kepada orang lain (dalam cinta kasih), serta kesetiaan kepada harta bendanya, yakni menjaga dan membelanjakannya secara bikjaksana.

Seorang wanita pekerja yang telah melanggar kesetiaan pada suaminya, ia akan seenaknya mengabaikan tugas-tugas rumah tangga. Kalau kesucian telah ternodai, maka dengan mudahnya ia akan melakukan tindak penyelewengan yang lain, tidak jujur kepada diri sendiri, tidak jujur kepada suami dan pada harta bendanya, bahkan tidak jujur kepada anak sendiri akan dilakukan. Seorang istri yang tidak dapat dipercaya, ibarat pencuri di dalam rumah selalu dicurigai oleh suami karena adanya kekhawatiran. Karena itu seorang wanita yang bekerja harus mampu menanamkan kepercayaan kepada suami, bahwa dirinya setia dan dapat dipercayai.

Di antara hal yang bisa merusak kesetiaan ialah berhias diri secara berlebihan. Biasanya seorang wanita pekerja ingin tampil lebih prima, ia ingin tampil lebih unggul di mata bawahanya, ingin pula dihargai oleh atasannya. Penampilan yang berlebihan menimbulkan kecurigaan. Karena itu hendaklah wanita karier berhias diri hanya untuk suami, tabarruj, yakni perbuatan kemaksiatan, seperti menampakkan kecantikan ddengantujuan memikat laki-laki lain, tanpa rasa malu, memang dilarang dalam Islam. Perhiasan yang berlebihan batas, atau pakaian yang mengundang maksiat, sebaiknya ditinggalkan untuk diganti dengan perhiasan dan pakaian yang mengandung ibadah.

Adapun salah satu penyebab dari terjadinya hubungan-hubungan yang tidak wajar atau penyimpangan-penyimpangan seksual dari seorang yang berkeluarga adalah karena ketidakpuasan istri/suami dalam hubungan seksual dengan suami istri karena merasa tidak puas, maka ia mencari kepuasan itu ditempat lain. Seorang wanita pekerja dapat berkencang dengan pekerjaannya bila ia mau. Akan tetapi peralihan semacam itu bukan sesuatu yang diijinkan oleh Allah. Islam melarang, bahkan kalau ketahuan keras dihukum. Hukumannya dihukum cambuk, hukum puluk, hukum dera.[15]

Apabaila kesetiaan dilanggar, tidak saja ketenangan dan ketentraman sulit dicapai, akan tetapi keluarga itu akan terpecah dan akan menimbulkan perceraian, tidak saja kebahagiaan akan porak poranda, tetapi tujuan pendidikan Islam dalam keluargpun tidak mungkin lagi tegak.

  1. Kerelaan Suami Terhadap Pekerjaan Istri

Al-Qur’an mengisahkan, bahwa kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Karena diantara kelebihan kaum laki-laki ialah menanggung nafkah bagi kaum wanita (di dalam hubungan suami istri). Firman Allah SWT dalam surat an-Nisa’ /4: 39 yang

Artinya :

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menakahkan sebagian besar harta merka, “ (QS. An-Nisa’ /4 : 39).[16]

Ayat tersebut menjelaskan bahwa pemimpin laki-laki (suami) memiliki tanggung jawab menanggung nafkah kepada kaum wanita (istri) dengan demikian seorang wanita bekerja, hanya dalam rangka membantu mencukupi kebutuhan hidup keluarga, jangan sampai pekerjaannya mengorbankan martabat dan harga diri, pribadi dan keluarga. Pekerjaan bukanlah satu-satunya jalan meraih kesuksesan dan kebahagiaan hidup, jauh lebih bahagia kalau ia mampu menjadi partner, tetapi alat untuk meraih kebahagiaan hidup bersama seluruh anggota keluarga.

Karena itu wanita bekerja adalah untuk keluarga. Bukan bekerja untuk karier sendiri. Sebab jika mereka mengajar karier di luar rumah tangga. ada dorongan yang sangat kuat bagi seorang istri untuk melepaskan kedudukannya yang sangat kuat bagi seorang istri untuk melapaskan kedudukannya sebagai anggota keluarga. Seorang perempuan kerja secara ekonomis sangat mandiri. hingga tidak bergantung pada nafkah dari suaminya. Jika kemandirian ini dimaksudkan sebagai jalan untuk melepaskan kewajiban selaku istri, maka ia berlawanan dengan fitrah. Karena itu Islam membolehkan seorang istri bekerja di luar rumah atas izin suaminya dan semata-mata untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga.

  1. G.    Penutup
    1. Wanita bekerja tidak dilarang oleh syari’at Islam, selama tugas dan tanggung jawab domestik rumah tangga tidak terbengkelaikan, dan dipersyaratkan bagi wanita bekerja untuk memperhatikan nilai etika atau akhlakul karimah.
    2. Wanita dibolehkan bekerja untuk membantu menafkahi keluarga diluar rumah harus berdasarkan pada izin dan kerelaan suami dengan melihat kondisi suami yang  sedang sulit dan untuk mencari kemaslahatan sesuai denga kaidah fiqhiyah yang sebagai berikut :

اَلْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَيْسِيْرُ

Artninya : “Suatu kesusahan mengharuskan adanya kemudahan

  1. Peran wanita yang bekerja dalam menciptakan keluarga yang sakinah bisa terwujud apabila; Pertama: Menjaga keharmonisan dan keutuhan hubungan bersuami istri, pekerjaannya diperuntukan bagi kepentingan keluarga dan kebahagiaan rumah tanggannya. Kedua: harus berperan aktif dalam membimbing anak-anaknya, karena ia lebih dekat dan sayang kepada anaknya; dan pandai memanfaatkan waktu ketika bersama anak dan keluarganya sebaik mungkin

 

 


[1] Dr. Imarah Najib,Al-Usrah Al-Mitsli fi Dhau’Al kitab wa As-Sunnah, hlm 182

[2] Departemen Agama RI, Al Qur’an Terjemah, Pelita III, Jakarta, 1991-1992

[3] HR Muslim

[4] Dr. Imarah Najib Op.cit, hlm, 183

[5] Dr. Mustafa Abdul Wahab, Al-Usrah fi Al-Islam, hlm 71

[6] Asghar Ali Engineer, Hak-hak Perempuan dalam Islam, terj. Farid Wajidi dan Cici Farkha Asegaf, (Yogyakarta : Yayasan Benteng Budaya, 1994), 55.

[7] bn Hasan, al-Muhalla, (Kairo :al-Mathba’ah al-Muniriyah, tt), 97.

[8] Sitoresmi Syukri Fadholi, Sosok Wanita Muslimah, Pandangan Seorang Artis, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1993), 56.

[9] Nancy Van Vuuren, Wanita dan Karier, (Yogyakarta: Kanisius, 1988), 9.

[10] Tatty S. B. Amran, Kiat Wanita Karier, seri No. 2 (Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo, 1994), 3

[11] Quraisy, Membumikan, 275.

[12] Dewi Motik Pramono, Wanita Karier dan Rumah Tangga Ideal Menurut Islam, (Jakarta : Pustaka Panjimas, 1989), 40-41.

[13] Zakiah Daradjat, Islam dan Peranan Wanita, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), 22-23.

[14] Abdul Halim Abu Syuqqah, kebiasaan Wanita, (Jakarta : GIP, 1997), 444

[15] Zakiyah Darajat, Kesehatan Mental Dalam keluarga, (Jakarta : Pustaka Antara, 1992), 187

[16] Depag RI, Al-Qur’an , 34

Tentang BantuanHukumFakhrazi

Mahasiswa fakultas hukum aktif di salah satu perguruan tinggi negeri di jakarta yang hanya ingin berbagi teori-teori hukum yang ada yang suda jau bertolak belakang dengan praktek hukum yang ada
Pos ini dipublikasikan di Hukum Islam dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s