Ksatria Hukum serta Tipologi Hakim

Tulisan kali ini akan membicarakan peristiwa yang belakangan terjadi pada ujung tombak sebuah keadilan, yakni peristiwa yang sangat meprihatinkan ketika seorang hakim tidak berlaku sesuai pada tempatnya, Terakhir Wakil Ketua Hakim Pengadilan Negeri Bandung Setyobudi Tejocahyono tertangkap tangan dalam perkara penyuapan, dan diciduk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hal ini menambah banyak rentetan hakim yang menjadi tersangka di jejuri pesakitan dalam peristiwa hukum di negara kita tercinta ini yang berlandaskan dasar negaranya sebagai Negara Hukum (Welfare State)

Hakim adalah pekerjaan mulia tidak semua orang mampu menjadi hakim, apa yang dilakukan hakim adalah memutuskan suatu masalah hukum dengan cermat, teliti, dan tepat berdasarkan hukum  peraturan perundang-undanagan yang berlaku dengan mendudukan perkara pada tempatnya sehingga memberikan keadilan terhadap terdakwa dan korban.

Rasulullas SAW memberikan motivasi dan menghargai pekerjaan hakim dalam sebuah hadis, Dari Amar Ibnu al-Ash RA bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda. “Apabila seorang hakim menghukum dan dengan kesungguhannya ia memperoleh kebenaran maka baginya dua pahala apabila ia menghukum dan dengan kesungguhannya ia salah maka baginya satu pahala (HR. Bukhari-Muslim)

Namun dalam hadis lain Rasulullah SAW memberikan peringatan kepada para hakim yang dilukiskan dengan menggambarkan tipologi hakim dalam memutuskan suatu perkara, Ancaman yang disampaikan Rasulullah SAW adalah mengenal tempat tinggalnya di neraka atau di surga. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dari Buraidah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hakim itu terdiri dari tiga, Dua orang dineraka dan satu orang di surga, seorang yang tahu kebenaran dan ia memutuskan dengannya maka ia disurga; seorang yang tahu kebenaran namun ia tidak memutuskan dengannya. Maka ia di neraka; dan seorang yang tidak tahu kebenaran dan ia memutuskan untuk masyarakat dengan ketidak tahuannya maka ia di neraka. (HR. Imam Empat Hadis Shahih menurut Hakim)

Adapun tipologi hakim dari hadis Rasulullah SAW di atas, pertama seorang hakim masuk surga apabila memutuskan suatu perkara berlandaskan kebenaran didukung dengan bukti dan fakta-fakta, hakim yang didambakan oleh masyarakat seluruhnya hakim yang mampu menjalankan tugasnya dengan benar mendudukan perkaranya pada tempatnya dan tidak menzalimi siapapun,

Sedangkan kedua hakim yang masuk neraka adalah hakim yang mengetahui kebnaran akan tetapi ia tidak memutuskan dengan yang sebenarnya sebuah kebenaran, hakim seperti ini mungkin banyak terdapat dinegara kita, dimana para hakim tersebut lebih memilih syahwat tehadap duniawi daripada kebenaran yang ada yang harus ditegakkan. Berbagai temuan kasus penyuapan yang melibatkan hakim menjadi bukti padahal Rasulullah SAW memberikan gambaran sebuah negara tidak memiliki kehormatan disebabkan ketidakadilan dan melakukan keberpihakkan hukum kepada orang yang kuat

Jabir berkata, aku medengar Rasulullah SAW bersabda, “Bagaimana suatu umat dapat terhormat apabila hak orang lemah tidak dapat di tuntut dari mereka yang kuat” (HR. Ibnu Hibban)

Ketiga sekarang hakim yang tidak mengetahui dan ia memutuskan perkara yang disampaikan masyarakat dengan ketidaktahuan, maka ia di neraka, sosok hakim seperti ini sangat fatal apabila ditemukan dalam sebuah negara. Seorang hakim menggunakan kejahilannya dengan memanfaatkan kebodohan masyarakat tanpa melakukan ijtihad untuk memutuskan perkara tidak berdasarkan ilmu.

Dari tipe-tipe diatas maka kita dapat disimpulkan bagaimana keadaan lembaga kehakiman di Indonesia. Berbahagialah para hakim yang mampu memutuskan perkara berdasarkan kebenaran dan keadilan. Impian dan cita-cita dari sebuah keadilan sejatinya memutus perkara sesuai pada tempatnya, tidak ada yang dilebih-lebihkan maupun dikurangngkan dari kadar pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara, ketika Hakim memutuskan perkara setidaknya para pendahulu pakar hukum banyak menjelaskan  bahwa dibentuknya hakim dengan tiga bagian, satu ketua dengan dua anggota hakim di bentuk tidak lain untuk bermusyawarah untuk mufakat sebelum memutuskan suatu perkara pada tempatnya. Kedepan saya sebagai yang masih menjadi mahasiswa yang mempelajari dan sedikit banyak praktik hukum dinegara ini berharap semoga semua yang kurang baik citra hukum di masyarakat akan berubah secepatnya sehingga masyarakat kembali percaya oleh lembaga penegak hukum yang di pimpin oleh tangan Tuhan para ksatria hukum yang muncul banyak di kemudian hari. Amin

Tentang BantuanHukumFakhrazi

Mahasiswa fakultas hukum aktif di salah satu perguruan tinggi negeri di jakarta yang hanya ingin berbagi teori-teori hukum yang ada yang suda jau bertolak belakang dengan praktek hukum yang ada
Pos ini dipublikasikan di ILMU HUKUM dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s